Arsip Bulanan: Agustus 2021

Skincare yang Cocok untuk Aktivitas Luar Ruangan

Gue udah pernah bahas Tips ini sih, tapi byk yg nanyain lagi “Kak Abex pakai Skin Care apa sih?” Gmn sih tips ttg merawat wajah saat mendaki gunung?
jujur gue gak pakai Skin Care merk apapun & gak melakukan perawatan intens jg utk wajah, tp berikut #TipsAlaAnakBebek untuk merawat wajah saat mendaki gunung :
1. Sebelum Mendaki, biasanya gue pakai pelembab wajah yg ada spfnya.

2. setengah jam sebelum jalan, gue biasain pakai Sun Block,walopun udara di gunung itu dingin, tp jgn salah udara dingin bs tetap membakar kulit wajah & bibir juga loh.
*liat dia berubah jadi dingin ajah bs membakar hati *eeaaa

3. Sun Block ini penting, bkn biar putih, inget pakai sun block ga bikin putih. Ini cuma biar ga kebakar kulitnya & terhindar dari resiko kanker kulit

4. Pakai Lip Balm setiap bbrp jam sekali, jgn nunggu bibir kering kemudian pecah. Inget, LipBalm bening bukan Gincu merah meronaahh, lipmate okaylah haha!! Jgn basahin bibir pakai ludah, apalagi pakai ludah orang lain itu bikin enak dan bibir bs semakin kering
.
.
5. Setelah Mendaki, muka yg cemong itu jgn lupa dibersihkan.Ga perlu jg cuci muka pakai sabun pembersih muka, buang2 air. Gue biasanya pakai pembersih atau handuk dibasahin air atau tissue wajah jg boleh. Abis pake tissue atau kapas jgn lupa sampahnya dibawa turun!!! 6. Gue ga pernah sih pake cream malam atau apalah itu, gue membiarkan kulit wajah bernafas tanpa make up atau sentuhan bahan kimia yg lainnya

7. Pemakaian make up berlebih saat mendaki gunung, misal Dempul, atau Semen  biar keliatan putih, dicampur debu, keringet, akan jadi kuman, terus nanti jerawatan deh.
Jadi saat mendaki, biarin ajah mukanya natural menghirup udara segar di pegunungan

8. MINUM AIR PUTIH YG BANYAK, this is help a lots! Air putih itu menyehatkan dari dalam, this is one of the key.

Kalo masih gak pede juga dgn muka sendiri saat di Gunung, bisa foto ambil angle pemandangan, mukanya kecil ajah bkn disiasatin dgn make up, atau diedit dgn apps, tp inget itu Muka bkn Skripsi ga perlu di Edit berlebihan Yg jelas, Percantiklah hati elu, karna percuma kalo wajah cantik tapi hatinya gak cantik *eemmaapp

Candi dan Peninggalan Sejarah Indonesia

Indonesia memiliki banyak sekali candi yang merupakan peninggalan bekas kerajaan pada zaman dahulu kala. Nah, apakah kalian tahu ada berapa canti yang ada di Indonesia? Jumlahnya sangat mencengangkan sekali. Ternyata ada banyak candi yang masih belum kita ketahui dan merupakan salah satu saksi bisu dari pemerintahan zaman dulu.

Iyah baru ngerasa bersalah banget karna ternyata gue belum mengenal negara gue sendiri.. gue terlalu sibuk peduli sama alam, campaign soal alam which is good tapi gue lupa selain alam ada juga yg harus gue jaga tentang warisan negara gue yaitu sejarah.. ternyata gue belum banyak mengenal sejarah dan budaya negara gue sendiri.. cuma hapal nama gunung doang sedih..  hayooo siapa yg kaya gue? ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Dan beberapa waktu yg lalu gue berkesempatan mengunjungi beberapa Candi yg ada di Jogja dan Jawa Tengah yg ternyata buaaannyaakk bgt candi-candi lainnya yg gue belum tau.. maklum cuma tau Borobudur, Prambanan, Ratu Boko dll ituuu ajah.. makin gue ngerasa bersalah kan.. kemana ajah Bex selama ini? ⁣⁣⁣
Ngaku deehh gue gak sendirian kan?
⁣⁣⁣
Dan Candi yg dibelakang gue ini namanya Candi Sambisari dan Candi Banyunibo.. banyak hal yg bisa gue pelajari dari Candi sebenernya, dan cerita tentang Candi Sambisari dan Banyunibo ini cukup menarik, tapi lebih menarik lagi kalo elu baca langsung cerita lengkapnya di postingan @siapdarling hehehe.. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Darisitu gue sadar, ternyata banyak masih banyak yg harus gue pelajari tentang sejarah peradaban bangsa gue ini melalui relief yg diukir di setiap candi.. yaaahh mungkin belum semua bisa tercapai sih, tapi minimal gue semakin rajin laahh mengunjungi candi sambil.. uuhhmm paling enak sih sambil nanam bibit pohon  jadi tetep melestarikan lingkungan sambil melestarikan sejarah bangsa gue sendiri dan oh tentunya bareng sama @siapdarling dan #DarlingSquad ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Kalp elu udah pernah ke candi apa ajah? ⁣jangan cuma numpang pacaran doang kalo ke candi ahahhaaha
⁣⁣
Coba bantu gue, Sebutkan dong nama-nama candi di daerah elu yg elu ketahui siapa tau jadi tujuan berikutnya buat gue

Conny Tiluata, Pejuang Aspirasi Rakyat Kupang!

Banyak sekali yang suka menyuarakan pendapat sebagai salah satu perjuangan atas pikiran rakyat. Nah kali ini ada seorang pejuang aspirasi rakyat yang berasal dari kupang.

Kembali lagi dirubrik #SosokCatatanBackpacker, yaitu rubrik yang membantu kami sepanjang perjalanan kami dan menjadi inspirasi kami. Sekarang, Yud akan menulis tentang seseorang yang membantu Yud selama di Kupang.

“Yud, sehabis makan kita langsung ke pasar beli gas ya. Kamu angkat tabung gas itu.”

Saya masih teringat ajakan Kak Con saat itu. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Kupang, saya menumpang di rumah Kak Conny, salah satu Couchsurfer yang aktif di Kupang. Sesaat baru saja sampai, saya langsung diajak keliling oleh Kak Con sambil mengangkat tabung gas. Saya cukup terengah mengangkat tabung gas itu.

Beliau menjemput saya ketika saya tiba di Kupang. Saya disambut dengan senyum dan pelukan hangatnya. Saya meresponnya dengan hangat. Satu lagi kebaikan yang saya terima dari orang yang baru saya kenal. Padahal, awalnya saya cukup ragu apakah saya akan bertemu dengannya.

Beliau merupakan seseorang yang sangat aktif menyuarakan aspirasi rakyat Kupang. Dari mulai keadilan rakyat hingga aneka masalah sosial. Beliau juga seorang yang mengurus suatu organisasi non profit untuk membantu anak-anak yatim piatu.

Dirumahnya, saya diajarkan banyak hal tentang arti bersyukur. Ada 4 orang anak asuh dirumah Kak Con yang membantu kak Con menjalankan semua kegiatannya. Dari mulai memasak, mencuci, hingga membersihkan rumah. KakCon membiayai semua biaya sekolah dan hidup anak asuh tersebut.

Beliau juga memasak Se’i sapi, dan itu merupakan menu yang paling pertama saya coba. Rasanya nikmat sekali. Beliau bilang, kalau belum makan Sei, artinya belum ke Kupang. Saya juga ditemani keliling Kupang, dari ujung ke ujung!

Conny Tiluata, seorang wanita yang berhati mulia. Tidak pernah takut untuk memperjuangkan hak anak Yatim dan selalu membantu orang yang membutuhkan. Salut!

Teringat suatu momen, dimana malam itu saya mengobrol cukup panjang dengan kak Con, tentang kisah hidup dan keluarga masing-masing sambil membuka album kenangan. Intim sekali.

Sampai bertemu lagi, Kak Con!

Wayag, Surga yang Tertinggal

Siang semakin terik selagi kami menunggu tetua adat yang sedang beribadah. Sebagian dari kami hanya duduk-duduk didermaga, bermain bersama anak-anak, bahkan ada yang melakukan snorkling padahal jelas-jelas tidak ada karang dibawah laut. Kelakuan bocah Desa Selpele masih menjadi daya tarik meskipun Bang Ivan baru saja memberikan pengumuman bahwa kami mendapatkan izin dari tetua adat untuk melanjutkan perjalanan.

Haluan kapal kembali mengarah ke tujuan awal. Burung-burung camar berterbangan disekitar kami. Ombak masih menunjukkan keganasannya, dan awan mendung masih terlihat dominan. Sang Nakhoda tetap memacu kapalnya tanpa rasa takut.

Dan apa yang kami khawatirkan terjadi lagi. Ombak besar dan angin yang kencang. Meskipun telah mendapat doa dan izin dari tetua adat, kapal kami goyah terhempas kencangnya gelombang. Semua penumpang terdiam, dan dibalik diam terucap doa-doa selamat.

Satu jam kemudian, ombak mulai reda. Kami ternyata mulai memasuki daerah kepulauan, dimana angin tidak lagi mendominasi pergerakan arus. Dari kejauhan, kami melihat bukit-bukit karst yang sangat tinggi. Berbentuk segitiga, ditumbuhi aneka varietas tumbuhan, dan dialasi dengan air laut yang berwarna hijau tosca. Kami datang ke gerbang Surga yang tertinggal.

Kapal kami akhirnya memasuki kompleks dari kepulauan Wayag. Di kanan kiri kami berdiri karst setinggi gedung 7 lantai. Aku terpana melihat keajaiban ini. Aku tak pernah menyangka, Wayag sebegitu indahnya. Tak heran, banyak turis yang ingin menapakkan kakinya di Puncak Wayag.

Lalu tibalah kami di satu spot dimana kami harus memulai pendakian ke Puncak Wayag. Aku melompat dari kapal langsung menuju karst yang dapat diinjak. Perjalanan kami akhirnya dimulai untuk menuju Puncak Wayag.

Tak terasa setengah jam kami mendaki. Pendakian berjalan lancar tetapi sayangnya cukup lambat. Di rombongan, ada satu orang nenek tua yang ingin mencoba mendaki. Aku, Kokoh, Angga, dan Nanda salut sekali dengan nenek itu. Kami membayangkan apa jadinya kami ketika nanti kami tua.

Tiba-tiba terdengar suara tawa dari atas. Suara teriakan, lalu tertawa. Dari suara itu, bisa ditebak bahwa puncak sudah dekat. Kami segera mempercepat laju untuk sampai ke puncak. Tak lama, tibalah kami di Puncak. Puncak Wayag, yang katanya merupakan impian para pejalan.

Kuliah Menggangu Traveling atau Traveling Menggangu Kuliah?

Adakah dari kalian yang masih kuliah? Tugas kuliah dan juga ujian akhir tentu saja terkadang membuat kita ingin pergi berlibur dan menenangkan pikiran. Namun, apakah anda pernah berpikir lebih baik traveling sambil kuliah? atau kuliah dulu baru traveling? Ini dia sharing dari Ashari Yudha di akun instagramnya.

Sharing sharing aja yuk, banyak pesan dan DM yang masuk menanyakan perihal “Gimana caranya kak Kuliah tapi bisa jalan-jalan, kan ga ada uangnya?”. Okay saya akan mencoba menjawab satu pertanyaan legenda tersebut.

Kalau ditanya kapan mulai fokus traveling, jawabannya adalah saat kuliah. Kok bisa saat Kuliah? Waktu dan uangnya gimana?

Urusan waktu, menurut saya anak kuliah juaranya. Jujur aja, saat memasuki semester tengah dan akhir, waktu kamu lebih banyak dikosan. Fokus cuma di skripsi saja. Saat itu, selama 2 tahun saya ngerjain Skripsi (2 tahun lama juga ya, maklum teknik Geologi ) kerjaan saya ya ngerjain Skripsi sambil jalan-jalan. Lebih banyak jalan-jalannya malah. Saya malah masih sempet pacaran, nongkrong ga jelas, kerja part time ngumpulin modal, ngeband, jailin adek kelas dan semacamnya. Bayangin aja dalam seminggu, cuma masuk sekali doang itupun bimbingan setengah jam. Sisanya? Ya main sambil ngerjain.

Terus uangnya darimana? Nah, kamu gunakan skill yang kamu punya. Kamu punya waktu dan punya skill. Terus ya dijual dong skillnya. Kalau saya dulu jualan makanan di kampus, jadi tukang servis HP+laptop, bikin website dan design grafis dan lain-lain. Jadi, saya menabung dari hasil keringat sendiri untuk jalan-jalan. Nggak perlu minta ke orang tua lagi. Hal itu harus mulai dibiasakan dari sekarang, gaes.

Waktu dan uang ada? Tinggal berangkat! Nah sekarang pinternya kamu aja mengatur waktu antara Skripsi dan Traveling. Jangan sampai jalan-jalan merusak kuliah dan sebaliknya juga, jangan buat skripsi merusak jalan-jalan.

Percayalah, jalan-jalan dari hasil keringat sendiri lebih enak bro, apalagi jalan-jalan setelah lulus kuliah. Rasanya gak ada beban lagi!

Jadi kamu milih skripsi apa jalan-jalan dulu? Alasannya? Manaaaaa yang anak KULIAH suaranyaaaaaa!

Rafting di Sungai Badeng! Serunya!

Kalimantan memang menyimpan banyak sekali hutan tropis yang sangat indah dan asri sekali. Berbagai macam suku, adat, dan budaya terdapat di pulau kalimantan. Bahkan hutan terbesar di Indonesia pun terdapat di pulau yang paling besar ini. Jika mengunjungi kalimantan, belum afdhal jika belum rafting di sungai – sungai hutan kalimantan nih.

Disini kita akan mengikuti perjalanan ashari yudha bersama teman – temannya dalam menjelajahi hutan kalimantan. Serunya rafting di hutan kalimantan pun diceritakan di akun instagramnya yang memiliki username @catatanbackpacker. Simak keseruan Ashari Yudha bersama para traveler lainnya di hutan kalimantan.

Ada yang udah pernah rafting? Gimana rasanya? Pasti seru sekali sambil menikmati pemandangan alam yang ada di sekitar sungai.

“Siap-siap ya buat jeram tiga meter!” ujar pemandu.

“Siaaaaaaaaaaap!” jawab kami serempak!

Serunya! Perjalanan kami hari ini bersama @travelingbytrain dan @keretaapikita dimulai dari rafting bersama di Sungai Badeng. Seperti biasa, sebelum rafting kegiatan dimulai dengan memberi panduan cara rafting yang aman dari pemandu yang sudah terlatih. Setelah diberikan panduan dan sedikit mempraktekkannya, kami bergegas menaiki mobil pick up yang sudah disediakan untuk menuju ke puncak bukit!

Perjalanan darat menuju titik start rafting sangat menyenangkan. Kami melewati rumah-rumah penduduk lalu melintasi hutan pinus yang lebat. Setelah itu kami harus kembali berjalan kaki melewati persawahan agar bisa sampai di tepi sungai.

Sesampainya di tepi sungai, kami menunggu para pemandu membawakan raft. Satu persatu melompat ke raft dan langsung terjun mengikuti arus! Pemandu memberi tahu kami bahwa didepan akan ada jeram setinggi tiga meter! Ya, tiga meter!

Adrenalin terpacu karena derasnya debit air yang mengalir. Maklum, akhir-akhir ini sering hujan. Tetapi semakin keras debit airnya, rafting menjadi semakin menyenangkan! Asal selalu berhati-hati, ya!

Buat teman-teman yang udah nyobain rafting pakai raft, lain kali harus Cobain bamboo rafting yang pernah saya coba di Loksado, Kalimantan Selatan. Wajib coba karena sensasinya beda banget! Ngebayangin naik rakit bambu melintasi sungai dan hutan-hutan di Kalimantan?

Penggunaan Lift yang Aneh di China

Biasanya, lift digunakan untuk mengangkut orang ataupun barang untuk menuju lantai yang dituju, agar tak perlu menggunakan tangga yang pastinya akan lebih jauh menguras tenaga. Kecuali kamu yang sedang dalam program diet, yang biasanya akan memilih tangga. Selain bertujuan membakar kalori, biasanya juga ukuran badan yang seukuran tiga kali badan orang normal sering membuat alarm kelebihan beban berbunyi. Cerita ini merupakan pengalaman unik yang baru saya alami ketika saya mengelilingi China kemarin.

Malam itu saya dalam perjalanan pulang menuju apartemen Chaula untuk segera beristirahat. Usai bermain ski, badan rasanya sakit dan penuh memar. Penuh memar karena saya tak bisa melakukan rem saat meluncur. Jadi menjatuhkan diri merupakan opsi terbaik untuk menghentikan momentum agar tak menabrak tembok yang ada diujung lintasan ski. Jatuh ke es dengan kecepatan hampir 40 kilometer/jam bukanlah suatu hal yang menyenangkan.

Dengan gontai, saya berjalan kedalam apartemen. Rasa dingin yang menusuk membuat saya segera buru-buru masuk, merindukan akan hangatnya pemanas ruangan. Untuk sampai kedepan lift, saya harus melintasi sebuah mini market kecil dan lorong yang sudah gelap. Mini market sudah tutup, jadi tak ada lampu yang menerangi lorong. Sesampainya didepan lift, hanya tiga orang yang menunggu lift untuk naik. Saat itu, lift sedang dalam posisi turun kebawah. Saya menunggu tepat didepan pintu bersama tiga orang lainnya.

Tiba-tiba terdengar suara yang tak biasa dari arah lorong yang menuju ke arah saya. Suara itu bergema dalam lorong menuju lift.

“Ngingggggg……Ngiingggggggg”.

Suara apa itu?

Kue Putu? Masa ada tukang kue Putu di China?

Suara apa itu? Seperti suara mesin?

“Citttt….ngiiiing…ciitttt”.

Tiba-tiba lorong yang tadinya gelap, menjadi terang benderang. Ada sebuah sumber cahaya yang cukup kuat, menerangi seisi lorong.

Sekonyong-konyong muncul sebuah motor listrik yang dikendalikan oleh seorang Nenek tua muncul dari arah lorong. Nenek itu tampak tenang, saat saya melongo melihat si Nenek.

“What the……” gumamku.

“Tinggg!”.

Pintu lift didepan saya terbuka, dan ternyata kosong melompong.

Tanpa basa-basi, si Nenek berbicara dengan bahasa Cina yang tak saya mengerti, lalu menyerobot antrian. Dan gak disangka-sangka, si Nenek memaksakan motor listriknya untuk masuk kedalam lift! Hal yang nggak pernah kita temui di Indonesia!

Saya hanya bengong melihat si Nenek, ketika motor itu memenuhi hampir setengah lift. Si Nenek itu tetap diam, tanpa dosa. Saya memperhatikan si Nenek dan sekeliling saya. Tapi tampaknya hanya saya yang keheranan dengan hal ini. Tiga orang lainnya terlihat biasa saja dengan adanya motor listrik yang ikut naik kedalam lift.

Sepanjang perjalanan keatas, saya mencoba bagaimana bisa mengambil foto karena selain nggak enak, liftnya goyang-goyang terus. Untungnya dapat, dan saya upload di Insta Stories.

Gila! Motor masuk lift!

Setelah saya bertanya kepada Chaula, menurut dia sebenarnya hal itu tak dibolehkan. Lift hanya untuk orang ataupun barang. Tak ada sejarahnya motor bisa masuk lift. Sepeda saja aturannya nggak jelas, ada yang bilang boleh ada juga yang melarang. Tapi ini motor lho, yang jelas dilarang. Tetapi mau gimanapun juga, tetap aja nggak bisa dikasih tahu. Source : Catatanbackpacker

Kebun Teh Membentang Indah di Kab. Batang

Teh adalah minuman sehari – hari yang kita minum mau di pagi , siang, ataupun sore hari. Asal minuman teh adalah dari daun tanaman yaitu daun teh. Biasanya kebun teh sangat luas sekali dan terdapat di dataran tinggi. Hal ini karena tumbuhan teh hidup di daerah yang sangat sejuk. Daun teh pun yang paling bagus adalah pucuknya sehingga untuk mendapatkan kualitas teh yang bagus, biasanya pucuk teh yang dipetik. Kali ini kita akan menjelajahi kebun teh yang ada di batang. Dilansir dari instagram seorang travel blogger yaitu Ashari Yudha, inilah perjalanannya ke kebun teh.


Batang?

Nama yang cukup rancu didengar, apalagi bagi para manusia piktor (penjelasan piktor baca bagian akhir post). Pak Yanto, guide kami selama perjalanan di Pekalongan menjelaskan bahwa potensi wisata tak hanya ada di Pekalongan saja, tetapi banyak juga yang bisa dilihat di Kabupaten Batang.

Kab Batang yang bersebelahan tepat dengan Kab Pekalongan ini biasa dikenal juga dengan wisata Batiknya. Tetapi selain batik, ternyata Batang juga memiliki potensi alam yang bisa dijadikan potensi perdagangan, yaitu kebun teh! Lagi-lagi, nggak nyangka ada kebun teh di daerah Pekalongan dan sekitarnya!

Bukit-bukit kebun teh terhampar luas sepanjang jalan menuju pabrik teh Pagilaran. Disini, guide dari Pagilaran menjelaskan bagaimana proses pembuatan teh dari mulai menanam, lalu hingga panen teh. Setelah itu ada beberapa proses lainnya yaitu sortir, pelayuan, hingga tahap akhir yaitu pengemasan. Di Pagilaran juga memiliki banyak grade untuk produk tehnya. Terdapat teh hijau, teh hitam, teh premium, hingga teh-teh biasa untuk sekedar teman makan biskuit. Kami juga ikut mencoba langsung beberapa jenis teh yang ditawarkan. Menurut saya pribadi sih, teh hijau paling mantap aromanya dibandingkan teh yang lain.

Ternyata, proses bikin teh nggak semudah minumnya ya! Biasanya kita tinggal seduh doang pakai air panas tambah gula, ini mah boro-boro. Makanya wajar anak kosan yang biasa minum teh, biar hemat kalau teh celup bekas pagi biasanya tahan dipake lagi buat minum teh sore harinya . Siapa nih yang kaya gini, ngaku!