Arsip Tag: travel wayag

Wayag, Surga yang Tertinggal

Siang semakin terik selagi kami menunggu tetua adat yang sedang beribadah. Sebagian dari kami hanya duduk-duduk didermaga, bermain bersama anak-anak, bahkan ada yang melakukan snorkling padahal jelas-jelas tidak ada karang dibawah laut. Kelakuan bocah Desa Selpele masih menjadi daya tarik meskipun Bang Ivan baru saja memberikan pengumuman bahwa kami mendapatkan izin dari tetua adat untuk melanjutkan perjalanan.

Haluan kapal kembali mengarah ke tujuan awal. Burung-burung camar berterbangan disekitar kami. Ombak masih menunjukkan keganasannya, dan awan mendung masih terlihat dominan. Sang Nakhoda tetap memacu kapalnya tanpa rasa takut.

Dan apa yang kami khawatirkan terjadi lagi. Ombak besar dan angin yang kencang. Meskipun telah mendapat doa dan izin dari tetua adat, kapal kami goyah terhempas kencangnya gelombang. Semua penumpang terdiam, dan dibalik diam terucap doa-doa selamat.

Satu jam kemudian, ombak mulai reda. Kami ternyata mulai memasuki daerah kepulauan, dimana angin tidak lagi mendominasi pergerakan arus. Dari kejauhan, kami melihat bukit-bukit karst yang sangat tinggi. Berbentuk segitiga, ditumbuhi aneka varietas tumbuhan, dan dialasi dengan air laut yang berwarna hijau tosca. Kami datang ke gerbang Surga yang tertinggal.

Kapal kami akhirnya memasuki kompleks dari kepulauan Wayag. Di kanan kiri kami berdiri karst setinggi gedung 7 lantai. Aku terpana melihat keajaiban ini. Aku tak pernah menyangka, Wayag sebegitu indahnya. Tak heran, banyak turis yang ingin menapakkan kakinya di Puncak Wayag.

Lalu tibalah kami di satu spot dimana kami harus memulai pendakian ke Puncak Wayag. Aku melompat dari kapal langsung menuju karst yang dapat diinjak. Perjalanan kami akhirnya dimulai untuk menuju Puncak Wayag.

Tak terasa setengah jam kami mendaki. Pendakian berjalan lancar tetapi sayangnya cukup lambat. Di rombongan, ada satu orang nenek tua yang ingin mencoba mendaki. Aku, Kokoh, Angga, dan Nanda salut sekali dengan nenek itu. Kami membayangkan apa jadinya kami ketika nanti kami tua.

Tiba-tiba terdengar suara tawa dari atas. Suara teriakan, lalu tertawa. Dari suara itu, bisa ditebak bahwa puncak sudah dekat. Kami segera mempercepat laju untuk sampai ke puncak. Tak lama, tibalah kami di Puncak. Puncak Wayag, yang katanya merupakan impian para pejalan.