Arsip Bulanan: Oktober 2021

Tips untuk Para Perempuan yang Ingin Naik Gunung

Aku suka banget kangen ketika melihat foto setahun yang lalu, masih keliatan muda ya. Sekarang jarang naik gunung kenapa? Nggak ada yang ngajak, dan nggak ada yang diajak. Ini juga waktu dimana masih gampang ngajak anak2 manjat. Sekarang susahh dengan beragam alasan, yaa mungkin kesibukan mereka meningkat, mungkin akunya yang nggak punya kesibukan atau kebanyakan waktu luang.

Kebanyakan iklan sekarang galleryku yaa, i’m sorry. Saking rindunya sama wadah volcano, kadang asal ngeiyain kalo ada yang ngajak padahal belon kenal. Bahaya sebenernya siapa tau mau nyulik (pede banget kaya ada yang mau bae). Tapi yaa gimana lagi too yaa, sudah keterlaluan rasanya you know lah.

Doain bulan depan plan kelaksana semua, kejar setoran. 3 bulan ini sejak agustus plan sudah sampai ke ujung dunia tapi implementasinya nol besar. Mangkel ya nggak tau siapa yang dimangkelin, kalo aku mampu si ya pengin solo karir, tapi aku kan wedok, liwet yoraiso pomeneh ngadegna tenda nganggo lading. Gini aja di galauin, cewek! Yawiss turu2 para kalong jangan lupa tangi subuhan.

Selamat pagi semangat pagiihh..tau apa mimpiku?punya rumah yang dengan hanya buka jendela aku bisa nonton yang beginian Ngomong2 soal Cikuray kemarin, aku mau bilangin sama kalian cewek2..kalo mau ndaki sama orang baru (khususnya cowok), usahakan jangan sendirian, bawalah temen kalian minimal 1. Kenapa? Biar kalo dibokisin ndaki cuman berdua, kamu masih punya temen lagi. Hikmah dari perjalanan penuh emosi ini adalah, aku temukan kawan2 baru, dan penampakan seperti ini. Syukuri, resiko yang harus kutanggung.

Bukan takut hitam, bukan takut matahari. Mendaki dengan persiapan matang, salah satunya menjaga kulitmu dari paparan sinar matahari (terik) langsung. Pakailah sunblock dengan SPF tinggi, dan jaga kulit wajahmu dengan mengenakan topi atau masker (kalo masker aku ngga tahan, engap sis). Ini bukan sok cantik atau kemayu atau gemagus atau gembeleng loh yaa, sinar matahari terik bukan cuma bikin kulitmu gelap, jangka panjangnya bisa bikin kanker kulit. Safety first.

Pembangunan Transportasi Mudah Menuju Papua

Seperti yang kita tahu, transportasi menuju salah satu kota paling timur di Indonesia yaitu Papua sangatlah rumit sekali. Meskipun papua memiliki banyak sekali keindahan alam dan tempat wisata bak surga dunia, sangat sulit bagi mayoritas orang untuk berlibur kesini karena minimnya transportasi dan masih banyak transportasi yang kurang layak apabila berkunjung kesini.

Sangat disayangkan sekali, karena papua memiliki banyak tempat wisata indah yang menjadi incaran para turis asing maupun lokal. Ada banyak sekali papua menyumbangkan pendapatan negara hanya dari tempat wisatanya yang sangat alami tanpa diubah sedikit pun. Maka dari itu, kini pemerintahan Republik Indonesia sedang gencar untuk membangun papua menjadi salah satu tempat dengan transportasi yang mudah.

Konektivitas Transportasi yang handal sangat penting untuk kemajuan bangsa dan negara. Meskipun jauh dari rumah, Bakti Insan Perhubungan telah bekerja keras untuk mewujudkan terselenggaranya konektivitas transportasi yg selamat, aman, dan nyaman hingga ke perbatasan Indonesia dan Papua Nugini Tetap dukung Kementerian Perhubungan dalam mewujudkan Konektivitas Transportasi yang handal dan Selamat Hari Perhubungan Nasional.

Oksibil : Negeri Dalam Awan di Tanah Papua. Oksibil (1306 mdpl) terletak di Kab. Pegunungan Bintang dan merupakan SATU-SATUNYA Kabupaten di Peg. JAYAWIJAYA yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini.

Tidak ada akses darat untuk menuju ke Oksibil karena lokasinya di Pegunungan, namun terdapat JEMBATAN UDARA alias Pesawat Penerbangan Perintis untuk memudahkan akses transportasi masyarakat serta pengantaran logistik. Di kesempatan ini, saya dan teman saya mendapatkan izin untuk ikut Penerbangan Pesawat Perintis Kargo berjenis Caravan yang mengantarkan sembako kepada masyarakat Oksibil.

Oiya, Pesawat Perintis Kargo ini terbang sehari bisa 6x loh bolak balik demi mengantarkan logistik untuk masyarakat Oksibil. Kami menggunakan Pesawat Perintis dari Bandara Tanah Merah (Boven Digoel) selama 30 menit saja dan mendapatkan experience yg sangat menakjubkan karena bisa terbang di atas Pegunungan Jaya Wijaya. Katanya kalo cerah saat penerbangan, kita bisa melihat Puncak Mandala Jaya Wijaya. Terimakasih kemenhub atas Jembatan Udara yg telah memudahkan akses hingga ke ujung Papua.

Tips Foto Tetap Kece Menggunakan Kamera HP

Kembali lagi ke Musim Gugur di Eropa. Perjalanan saya ini sudah berlangsung 2 tahun yang lalu tetapi tetap melekat sekali memori indah dari traveling ke negeri ini. Repost foto lama karna udah lama banget gak traveling, dan ditantang sama patrishiela untuk join 10 days challenge posting foto traveling selama 10 hari ke depan. Aku usahakan challenge ini terlaksana karna minggu ini baru mau mulai traveling keliling lagi.

Hal pertama yg aku kangenin ketika traveling di hutan/pegunungan Eropa adalah ambiencenya. Unreal dan magis. Gak ada yg lebih bisa menggambarkan selain dua kata itu.
Apalagi buat orang Bali yg tahunya cuma pantai dan tropical forest, jalanan belika liku dengan aroma tanah sehabis hujan dan warna musim gugur buat aku udah sangat mengesankan.

Aku diajak oleh sahabatku, orang Jerman untuk road trip dari Frankfurt ke Saxon Switzerland selama lebih dari 12 jam. Gak paham lagi, sepanjang perjalanan disuguhi oleh hamparan zamrud tanpa batas, pegunungan yg menjulang tinggi, perkotaan dgn jalan yg lebarrrr tanpa traffic, juga canola flower fields yg gak habis habis.

Kangen banget trekking di antara kabut, sunyi dan aroma dedaunan autumn yg terjatuh di tanah basah. It was so so incredibly amazing yet peaceful.

Tips Foto Instagramable

Lately, Aku lagi suka eksperimen dengan portrait ‘Bokeh Flare’ Fitur di OPPO Reno6. Lagi suka nangkap momen ekspresi orang yg Aku kombinasikan dengan bokeh dari Cahaya terobosan di Sela dedaunan, hasilnya diluar ekspektasi.

Siapa yg suka ngambil foto portrait juga? Atau doyan capture random portraits ketika traveling saat cahaya lagi bagus bagusnya? Aku mau kasih info menarik, apalagi kalau bukan tentang cuaaan. Cuz cuan is lyfeee haha

Untuk kalian yg tempted dgn OPPO Reno6, bulan ini Oppo Indonesia lagi ada OPPO Smart Deal, di mana teman teman bisa dapetin Cashback spesial buat IoT kayak Oppo Enco Air Dan Oppo Enco Buds setiap pembelian Oppo Reno 6 Series. Manfaatkan sebaik mungkin promo ini agar kamu bisa punya foto yang bagus dari kamera hp.

Lestarikan Desa Kecil di Indonesia untuk Budaya yang Abadi

Udah tau capek, kenapa masih naik gunung? Apakah itu aktualisasi diri? Atau hanya eksistensi diri? Eksistensi untuk bagi saya pribadi bukanlah masalah, karena yang terpenting adalah bagaimana kita dapat menggunakannya sebagai kontribusi yang bermanfaat dan tentunya dampak yg positif.

Jangan hanya bercerita ttg pernah naik gunung mana aja, tapi juga berikanlah manfaat positif dari cerita tersebut. Mau naik gunung sampe 100x pun, jika hanya untuk kesombongan, ya gak bakal ada manfaatnya. Jadi silahkan memilih, mau dikenal sebagai orang yg sombong atau mau bermanfaat bagi orang lain?

Aku suka di sini. Ini salah satu spot favoritku ketika berkunjung ke Wisata Edukasi Terpadu Sendi wetsendi karena bisa duduk santai sambil melihat Gunung Penanggungan dari kejauhan (sambil mikir kapan bisa ke sana hahaha).

Para masyarakat desa sendi sangat suka membuat kerajinan tangan. Kerajinan – kerajinan ini terbuat dari bambu dan menjadi hiasan Wet sendi sehingga sangat bagus dan mencolok sekali. Dan dengan adanya listrik dari PLN Peduli sejak tahun 2016, diharapkan dapat memajukan potensi destinasi wisata Desa Sendi karena lokasinya memiliki tanah yang subur, atmosfer yang adem dan sejuk, dan juga pemandangan yang sangat bagus banget yaitu Gunung Welirang dan Gunung Penanggungan. Jadi kapan nihhh kalian ke Mojokerto?? Lokasinya juga bisa buat camping ceria lhoo.

Sejarah Kerajaan Majapahit yang hampir dilupakan. Ini adalah masyarakat asli Desa Adat Sendi, dengan pakaian khasnya yang berwarna hitam, mereka percaya bahwa mereka adalah keturunan langsung dari Kerajaan Majapahit.

Jika diikuti secara sejarah, sebenarnya Desa Sendi ini sudah ada sejak abad 16! Wow! Yak semoga dgn PLN Peduli Desa Adat Sendi ini segera diakui oleh Pemprov Jatim dan tetap berkembang dari segi perekonomian pariwisatanya. Tapi aku seneng bgt lhooo bisa foto dengan bagian dari Kerajaan Majapahit, karena aku slalu kagum dengan peninggalan2 Majapahit serta sejarahnya, hehehe

Saya berharap kedepannya desa – desa seperti ini lebih diperhatikan lagi. Dengan melestarikan desa yang ada, maka sejarah Indonesia akan tetap terukir dan terjaga selamanya.

Teman Traveling yang Kompak Membuat Perjalanan Seru

Dibalik perjalanan yang luar biasa terdapat travel mate yang luar biasa. Begitupun perjalanan kali ini, perjalanan mengexplore Sumbar kali ini adalah salah satu perjalanan yang luar biasa bagi saya. Bertemu mereka orang-orang dengan beragam karakter kemudian melebur jadi satu. Capek, pegel, seneng, ketawa, nangis, lebam-lebam, gatel-gatel, bengkak-bengkak sampe berdarah-darah udah dirasain semuanya.

Dimulai dari puncak tertinggi gunung berapi di Indonesia, berlanjut ke pulau-pulau, pantai, air terjun, hutan, kota semuanya dilibas. Kami berjalan menjauh sesaat dari zona nyaman. Untuk merasakan sensasi berbeda dari perjalanan kali ini. Salah satunya adalah ketika tinggal di pulau ini. Tanpa sinyal, penerangan minim, tokai sapi dimana-mana, rumah yang sederhana dan banyak hal lainnya yang membuat cerita berbeda ketika tinggal sebentar di pulau ini.

Buttui, sebuah desa di pedalaman Mentawai, butuh perjuangan dan nyali yang besar untuk sampai disini. Pasalnya akses kesana tak mudah. Kami harus berkutat dengan jalan yang hancur tak karuan dan becek. Melewati berbagai macam lapisan hutan. Begitupun jika kita memilih menggunakan transportasi lewat sungai. Kondisi sungai yang kadang kering debit airnya membuat kita harus turun berkali-kali dan mendorong kapal kecil untuk tiba di desa tersebut dan dilanjutkan dengan trekking 3 jam. Pengalaman hidup disini mengajarkan saya arti kesederhanaan. Tidak hanya tanpa sinyal telepon, pasokan listrik disini pun tak ada sama sekali. Semuanya serba sederhana dan ala kadarnya. Berburu, mencari ikan, berladang adalah pekerjaan mereka sehari-hari. Semuanya dilakukan secara sederhana dengan alat ala kadarnya.

Lima hari di Mentawai. Bertemu dan hidup membaur bersama dengan suku Mentawai. Tinggal dua hari satu malam di Uma bersama keluarga Sikerei. Jauh dari peradaban. Hidup sederhana dengan aktivitas ala kadarnya dengan minimnya teknologi seperti apa yang biasanya kita miliki di perkotaan.

Yang paling juara sebenernya perjalanan ke desa Buttui ini, lima jam naik motor dan harus berkutat dengan jalanan yang luar biasa jeleknya sekaligus nguji mental dan fisik (asli lebih capek dari naik Gunung yg berhari-hari). Sebenarnya ada alternatif yang lebih mudah, yaitu dengan menggunakan pompong (kapal kecil) dan dilanjutkan dengan trekking 3-5 jam. Namun karena kondisi ketinggian air waktu itu kurang memadai terpaksa kami memilih menggunakan motor menembus hutan dan jalanan yang jauh dari kondisi baik.