Arsip Harian: Oktober 1, 2021

Teman Traveling yang Kompak Membuat Perjalanan Seru

Dibalik perjalanan yang luar biasa terdapat travel mate yang luar biasa. Begitupun perjalanan kali ini, perjalanan mengexplore Sumbar kali ini adalah salah satu perjalanan yang luar biasa bagi saya. Bertemu mereka orang-orang dengan beragam karakter kemudian melebur jadi satu. Capek, pegel, seneng, ketawa, nangis, lebam-lebam, gatel-gatel, bengkak-bengkak sampe berdarah-darah udah dirasain semuanya.

Dimulai dari puncak tertinggi gunung berapi di Indonesia, berlanjut ke pulau-pulau, pantai, air terjun, hutan, kota semuanya dilibas. Kami berjalan menjauh sesaat dari zona nyaman. Untuk merasakan sensasi berbeda dari perjalanan kali ini. Salah satunya adalah ketika tinggal di pulau ini. Tanpa sinyal, penerangan minim, tokai sapi dimana-mana, rumah yang sederhana dan banyak hal lainnya yang membuat cerita berbeda ketika tinggal sebentar di pulau ini.

Buttui, sebuah desa di pedalaman Mentawai, butuh perjuangan dan nyali yang besar untuk sampai disini. Pasalnya akses kesana tak mudah. Kami harus berkutat dengan jalan yang hancur tak karuan dan becek. Melewati berbagai macam lapisan hutan. Begitupun jika kita memilih menggunakan transportasi lewat sungai. Kondisi sungai yang kadang kering debit airnya membuat kita harus turun berkali-kali dan mendorong kapal kecil untuk tiba di desa tersebut dan dilanjutkan dengan trekking 3 jam. Pengalaman hidup disini mengajarkan saya arti kesederhanaan. Tidak hanya tanpa sinyal telepon, pasokan listrik disini pun tak ada sama sekali. Semuanya serba sederhana dan ala kadarnya. Berburu, mencari ikan, berladang adalah pekerjaan mereka sehari-hari. Semuanya dilakukan secara sederhana dengan alat ala kadarnya.

Lima hari di Mentawai. Bertemu dan hidup membaur bersama dengan suku Mentawai. Tinggal dua hari satu malam di Uma bersama keluarga Sikerei. Jauh dari peradaban. Hidup sederhana dengan aktivitas ala kadarnya dengan minimnya teknologi seperti apa yang biasanya kita miliki di perkotaan.

Yang paling juara sebenernya perjalanan ke desa Buttui ini, lima jam naik motor dan harus berkutat dengan jalanan yang luar biasa jeleknya sekaligus nguji mental dan fisik (asli lebih capek dari naik Gunung yg berhari-hari). Sebenarnya ada alternatif yang lebih mudah, yaitu dengan menggunakan pompong (kapal kecil) dan dilanjutkan dengan trekking 3-5 jam. Namun karena kondisi ketinggian air waktu itu kurang memadai terpaksa kami memilih menggunakan motor menembus hutan dan jalanan yang jauh dari kondisi baik.